BERTANYA TENTANG TUHAN

allah swtBanyak orang berbicara tentang eksistensi Tuhan dengan menggunakan sudut pandang makhluk. Sehingga hasilnya bukan Tuhan, melainkan tetap makhluk. Pemikiran filsafat tidak pernah menemukan Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, karena ia hanya berputar-putar dalam sudut pandang kemanusiaan atau makhluk belaka.

Pertama, Islam berbicara tentang Tuhan dalam sudut pandang yang lebih menyeluruh, keluar dari kemakhlukan. Bahwa Tuhan adalah ‘Sesuatu’ yang tidak serupa dengan makhluk apa pun. Sehingga setiap apa pun yang bisa dipersepsi oleh manusia, bukanlah Tuhan. DIA berada dalam wilayah ‘ketidaktahuan’ kita sebagai makhluk. Selama kita masih tahu tentang ‘dia’, maka itu bukanlah DIA.

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS As-Syura (42) : 11)

Yang kedua, Islam mengajarkan bahwa Tuhan adalah Maha Besar (Allahu Akbar) mewadahi seluruh makhluk berikut alam semesta. Maka, selama masih ada sesuatu yang bisa mewadahi ‘tuhan’, dia itu bukanlah Tuhan. Karena itu, Islam menolak tuhan-tuhan yang masih berada di dalam alam semesta. Tuhan tidak di surga karena surga tidak akan bisa menjadi tempatnya Tuhan, karena apabila ‘tuhan’ berada di surga berarti ‘tuhan’ masih kalah besar dengan surga, hal ini akan menggugurkan sifat Tuhan Yang Maha Besar.  Tuhan tidak terwadahi oleh apa pun termasuk alam semesta – ruang, waktu, materi & energi. Justru alam semesta itulah yang berada/terwadahi di dalam Tuhan. Begitu juga, Tuhan tidak terwadahi oleh pikiran manusia ataupun pancaindera. Karena kalau masih terwadahi, berarti ‘tuhan’ itu masih kalah besar dengan pikiran dan kemampuan indera kita. Ini menyalahi kaidah Allahu Akbar. Itu pasti bukan Tuhan, tapi tuhan-tuhanan.

Tuhan mewadahi segala yang kontradiktif . Dulu dan nanti, ada di dalam Dirinya. Kelihatan dan gaib berada di dalam Dirinya. Disana-disini-disitu juga berada di dalam Dirinya.
“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” (QS.AnNisaa’(4) : 126)

Yang ketiga, Tuhan sangat dekat dengan makhluk-Nya. Diistilahkan lebih dekat daripada urat nadi yang ada di leher kita sendiri. Tentu, antara kita dengan urat leher tidak berjarak, karena urat leher itu sudah di dalam tubuh kita. Tetapi Allah menggambarkan Dirinya sebagai lebih dekat daripada yang tidak ada jaraknya itu. Ini sekaligus membantah orang-orang yang mempersepsi Tuhan sebagai sosok, yang berada di tempat lain, seperti di langit atau di surga yang jauh disana.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaaf (50) : 16)

Karena itu, untuk menjadi ‘tahu’ bahwa diri kita ‘tidak tahu’, kita harus berproses menjadi tahu dulu. Disinilah terjadi proses saintifik dari: tidak tahu, belum tahu, lebih tahu, semakin tahu, tapi tidak akan pernah ‘benar-benar tahu’. Karena ternyata di balik ‘ketahuan’ selalu muncul ‘ketidak tahuan’ yang baru. Disanalah Tuhan sedang ‘memberi tahu’ tentang kesombongan manusia yang ‘sok tahu’. Sains tidak pernah bisa menjawab segalanya, karena ia hanya membuka tirai-tirai ‘ketidak tahuan’ manusia terhadap realitas yang selalu memunculkan misteri baru di baliknya.

Untuk apa kita bertanya ‘Tuhan Ada Dimana’ misalnya. Padahal, ruang di alam semesta ini berada di dalam-Nya. Pertanyaan ‘dimana’ itu hanya berlaku untuk makhluk, yang sekali waktu ada disini, disitu, atau disana. Karena Tuhan sudah meliputi seluruh ruang alam semesta, maka dalam waktu yang bersamaan DIA sudah berada disini, disitu, dan disana. Jadi buat apa kita bertanya ‘DIA berada dimana?’ Pertanyaan semacam itu hanya berlaku untuk makhluk yang terikat oleh dimensi ruang.

Sama juga ketika kita bertanya tentang eksistensi Tuhan dengan pertanyaan ‘Apa, Bagaimana, dan Kapan’. Tidak bermakna apa-apa, karena seluruh waktu, materi, dan energi sudah berada di dalam eksistensi-Nya. DIA adalah DIA, yang tidak pernah bisa kita persepsi, karena eksistensi-Nya berada di luar jangkauan persepsi manusia. Tetapi, kehadiran-Nya bisa dirasakan dengan hati yang jernih. Kecuali bagi orang-orang yang tidak punya hati…😉

Seperti, bagaimana mungkin kita bisa menceritakan bentuk sebuah gedung seperti apa, kalau kita berada di dalamnya dan tak ada peluang untuk keluar darinya? Paling-paling kita hanya akan berputar-putar menceritakan interiornya belaka. Itu pun hanya sejauh kemampuan mata kita memandang..🙂

Wallahu a’lam bishshawab, semoga bermanfaat.

(Diambil dari berbagai sumber)

2 thoughts on “BERTANYA TENTANG TUHAN

  1. Pingback: Kenapa Allah Mesti ‘Mewajibkan’ Ibadah « Maryanto

  2. Pingback: Berdoa dan Bersyukur « Maryanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s